Walisongo adalah Sembilan tokoh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Walisongo menyebarkan agama islam pada abad ke 14. Sebagian besar tokoh walisongo bukanlah asli penduduk pribumi, melainkan pendatang dari Negara-negara Arab seperti Gujarat, Persia, Irak, Yaman, dan negara arab lainnya.

Era walisongo merupakan berakhirnya dominasi Hindu-Budha. Namun masyarakat Indonesia khususnya Jawa pada waktu itu masih memegang adat istiadat Hindu-Budha yang kental. Oleh karena itu walisongo lebih memilih berdakwah dengan metode-metode pendekatan kultural, seperti lewat gending (lagu-lagu jawa), seni pewayangan, sastra, dan perkawinan. Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa beradaptasi dan tidak langsung menolak ajaran-ajaran islam yang dibawa oleh walisongo.

Selain menggunankan metode kultural, Walisongo juga berdakwah melalui pembangunan masjid-masjid di beberapa daerah di pulau Jawa.  Berikut beberapa masjid yang telah dibangun oleh Walisongo:

1. Masjid Ampel

Masjid pertama yang dibangun walisongo adalah masjid Ampel. Masjid Ampel berlokasi di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir Kota Surabaya. Masjid yang didirikan pada tahun 1421 ini merupakan masjid tertua ke-3 di Indonesia.

Masjid Ampel didirikan oleh Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel, dan dibantu oleh kedua sahabatnya yaitu Mbah Son Haji dan Mbah Sholeh, tentunya atas dukungan dari para Walisongo yang lain. Raden Rahmat atau sunan Ampel sendiri merupakan putra dari Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Ayah beliau juga merupakan salah satu tokoh walisongo yang berdakwa di daerah Gresik.

Masjid Ampel merupakan masjid kedua yang dibangun oleh Walisongo pada abad ke 15 setelah masjid Agung Demak. Meskipun dibangun pada abad ke 15, masjid ini telah menggunakan teknologi modern di masa nya. Terbukti dari beberapa bagian-bagian bangunan masjid yang sampai sekarang masih kokoh berdiri. Seperti 16 tiang masjid yang masing-masing memiliki tinggi 17 meter dengan diameter 60 sentimeter. Ke-16 tiang utama tersebut terbuat dari kayu jati asli.

Masjid Ampel atau masyarakat setempat lebih sering menyebutnya Masjid Ngampel ini sudah beberapa kali direnovasi. Hingga saat ini telah tercatat sebanyak 4 kali perluasan yang telah dilakukan. Renovasi dan perluasan pertama, dilakukan pada tahun 1917. Pada saat itu Adipati Aryo Cokro yang berkuasa di daerah tersebut.

Adipati Aryo Cokro menambah luas bangunan di sebelah utara bangunan lama. 9 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1926, Raden Aryo Niti Adiningrat melakukan renovasi yang kedua dengan menambah luas bangunan di sebelah utara juga.

Perluasan ketiga dilakukan setelah Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 30 Agustus 1950. Perluasan ketiga ini selesai dilakukan pada tanggal 21 Februari 1958. Perluasan terakhir dilaksanakan 16 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1974. Masjid yang awalnya memiliki luas 2.069 meter persegi ini bertambah menjadi 4.780 meter persegi.

Sampai tahun 1905, masjid ini merupakan masjid terbesar kedua di Surabaya. Namun karena banyaknya masjid-masjid besar lainnya didirikan di Surabaya, sekarang ini masjid Ampel tidak lagi masuk kedalam salah satu jajaran masjid terbesar di Surabaya. Namun sejarah dibalik berdirinya masjid ini tidak dapat digantikan oleh masjid-masjid megah di sekitarnya.

2. Masjid Agung Demak

Masjid kedua yang dibangun oleh walisongo setelah Masjid Ampel adalah Masjid Memak. Masjid demak adalah masjid kuno yang dibangun oleh Raden Patah Sultan kerajaan Demak dan dibantu oleh Walisongo. Masjid ini dibangun pada abad ke 15 tepatnya pada tahun 1401 saka atau bertepatan dengan tahun 1466 M. Masjid yang masuk kedalam jajaran masjid tertua di Indonesia ini berlokasi Kampung Kauman, Kelurahan Bintaro, kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Masjid demak merupakan saksi sejarah penyebaran agama Islam oleh Walisongo. Pasalnya masjid ini dulunya adalah tempat berkumpulnya walisongo untuk membahas masalah agama dan strategi menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Masjid ini juga merupakan tonggak berdirinya kerajaan islam pertama di pulau Jawa.

Di masjid ini banyak terdapat ornament-ornamen bulus yang diberi nama Candra Sengkala Memet. Ornament bulus ini bukan hanya digunakan sebagai hiasan, melainkan memiliki filosofi tersendiri. Makna dari filosofi gambar bulus adalah kepala bulus berarti angka 1, 4 kaki bulus memiliki makna angka 4, badan bulus yang berupa cangkang memiliki makna angka 0, dan ekor bulus memiliki makna angka 1. Jika digabungkan akan membentuk kombinasi angka 1401, yang merupakan tahun berdirinya Masjid Demak.

Pada awal pembangunanya, Masjid Demak terbuat dari kayu jati yang ditopang oleh 4 saka guru atau tiang raksasa. Keempat saka ini adalah persembahan dari 4 sunan. Saka bagian tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, Saka bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati, Saka bagian Barat Laut dibuat oleh Sunan Bonang, sedangkan Sunan Kalijaga membuat Saka bagian timur laut.

3. Masjid Menara Kudus

Masjid peninggalan walisongo yang ketiga adalah Masjid Menara Kudus. Masjid yang berlokasi di Desa Kauman, Kota Kudus Jawa Tengah ini dibangun pada tahun 956 H atau 1549 Masehi. Ada keunikan dari masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus ini.

Yaitu menara masjidnya yang berbentuk seperti bangunan candi Hindu. Sunan Kudus sengaja membuat bentuk menara tersebut seperti candi Hindu bukanlah tanpa sebab. Hal itu dilakukan karena memang metode dakwa walisongo adalah lewat akulturasi budaya. Menara Kudus sendiri memiliki tinggi 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10×10 meter.

Di sekeliling bangunan dihiasi dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah diantaranya berwarna biru dan berlukiskan masjid, manusia, unta dan pohon kurma. Sedangkan 12 yang lainnya berwarna  merah putih berlukiskan kembang. Lukisan manusia, masjid, unta, dan pohon kurma melambangkan kebudayaan islam yang lahir dari Negara Arab. Sedangkan lukisan kembang dan piring berwarna merah putih melambangkan kebudayaan Indonesia khususnya Jawa. Kedua kebudayaan tersebut kemudian diakulturasi menjadi Islam Nusantara.

4. Masjid Agung Cirebon

Masjid Agung Cirebon atau juga disebut Masjid Sang Cipta Rasa berlokasi kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwuluk, atau lebih tepatnya berada di kompleks kesultanaan Cirebon. Sang Cipta Rasa sendiri bermakna Dzat yang menciptakan rasa yaitu Allah, Tuhan semesta alam.  Masjid Sang Cipta Rasa dibangun pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati atau tepatnya pada tahun 1408 saka.

Pada saat itu Sunan Kalijaga diberi kehormatan untuk menjadi arsitek pembangunan masjid tersebut. Sedangkan pembangunan masjid ini dibantu oleh walisongo lainnya besama 500 pekerja dari Kerajaan Majapahit, Demak, dan Cirebon. Menurut kepercayaan setempat, masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam.

Di bagian depan mihrab masjid ini terdapat 3 ubin yang melambangkan Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga ubin ini dipasang oleh tiga sunan tokoh Walisongo, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Ada yang unik dengan tradisi di masjid ini, khususnya pada saat melaksanakan ibadah sholat jumat. Jika di masjid-masjid yang lain, umumnya hanya ada satu muadzin yang mengumandangkan adzan sholat jumat. Di masjid ini justru ada 7 muadzin yang mengumandangkna adzan sebelum melaksanakan sholat jumat. Hal tersebut bukanlah tanpa sebab.

Kebiasaan tersebut bermula sejak masa Sunan Gunung Jati. Waktu itu setiap hendak melaksanakan sholat subuh, masjid ini selalu diganggu oleh Aji Menjangan Wulung. Setiap muadzin yang mengumandangkan adzan subuh selalu tewas akibat ulah Aji Menjangan. Sunan Gunung Jati kemudian memerintah 7 muadzin untuk mengumandangkan adzan secara bersamaan.

Upaya itupun tidak sia-sia. Aji Menjangan Wulung berhaasil diusir dan sudah tidak pernah mengganggu para jamaah lagi. Hingga saat ini kebiasaan ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat, akan tetapi kebiasaan tersebut hanya dilakukan pada saat adzan sholat jumat saja.

Itulah tadi sejarah masjid-masjid yang telah dibangun oleh Walisongo. Semoga semakin menambah pengetahuan kita mengenai sejarah penyebaran islam di Indonesia.

 

 

10 Fakta Unik Masjid Aschabul Kahfi Tuban

7 MASJID TERBESAR DI INDONESIA

7 Masjid Tertua Di Indonesia Yang Wajib Diketahui

Perbedaan Masjid Raya Masjid Agung Masjid Besar dan Masjid Jami

Open chat
Selamat datang di Picasso Rugs & Carpets. Mau proposal GRATIS dan DISKON langsung?
Silahkan chat kami disini
Powered by