Share halaman ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejak kemunculannya di Wuhan pada akhir bulan Desember 2019, Corona atau Covid-19 telah merenggut banyak nyawa dari penduduk seluruh dunia. Hingga saat ini tercatat sebanyak 444.880 korban meninggal dari seluruh penjuru dunia akibat Virus Corona. Namun covid-19 ini bukan satu-satunya wabah yang pernah terjadi.

Dalam sejarah panjangnya, Umat Islam telah berkali-kali ditimpa wabah yang menewaskan banyak umatnya. Beberapa Negara Islam seperti Mesir, Syam, Irak, Maroko, Andalusia, dan Negara-negara Islam lainnya harus merelakan ribuan nyawa penduduknya akibat wabah-wabah tersebut. Berikut 7 Wabah yang terjadi dalam sejarah Islam.

1. Wabah Shirawayh (627-628M)

Wabah Shirawayh merupakan wabah yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah ini terjadi sekitar tahun 627-628M. Wabah Shirawayh pertama kali muncul di Ibu kota Persia, kemudian menyebar ke Negara-negara sekitarnya seperti Iran, India, China, Kazaksta, Afganistan, kemudian menuju semenanjung Arab. Nama Shrawayh berasal dari kata Siroes, yang merupakan Raja Persia dari Dinasti Sassanian yang meninggal akibat wabah tersebut.

Dalam kitab Risalah An-Naba’ al-Waba’ Syeikh Zain ad-Din bin Al-Wardy menjelaskan bahwa wabah yang terjadi pada zaman Nabi tersebut adalah wabah cacar dan campak. Pendapat Syeikh Zaid ad-Din tersebut berdasarkan Hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari:

“Dari Asma’ berkata; seorang wanita bertanya kepada Nabi saw. katanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya puteriku menderita penyakit Campak, hingga rambutnya rontok, sementara saya hendak menikahkannya, apakah saya boleh menyambung rambutnya? Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung.” (HR. al-Bukhari)

Dari Hadits diatas dapat disimpulkan bahwa wabah Shirawayh yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad adalah wabah campak.

2. Wabah Amwas (638-639M)

Wabah Amwas atau yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan Emmaus Plagoe, merupakan wabah yang terjadi di Negeri Syam. Amwas sendiri merupakan nama dari salah satu desa kecil di Palestina, tepatnya di antara Ramallah dan Al-Quds, Amwas juga merupakan markas utama pasukan Muslim pada masa penakhlukan Syam. Wabah ini terjadi pada masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin tepatnya pada masa pemerintahan Umar bin Khattab tahun 638-639 M.

Menurut beberapa Ilmuwan, Wabah Amwas sendiri diperkirakan adalah  penyakit Pes Bubo. Perkiraan tersebut berdasarkan catatan sejarah dimana pada abad ke-6 Negara-negara dibawah kekuasaan Islam seperti Mesir, Aljazair, Persia, dan Palestina tengah dilanda Wabah Pes Bubonic.

Pes Bubonic merupakan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Yersinia Pestis. Yaitu suatu jenis bakteri terdapat pada hewan-hewan pengerat seperti tikus, tupai atupun bajing yang menularkan bakteri tersebut baik secara langsung maupun melalui kutu-kutunya. Gejala dari penyakit Pes Bubo adalah Limfadenopati atau pembengkakan di daerah-daerah kelenjar getah bening, seperti ketiak, kunci paha, dan leher, yang disertai dengan demam, menggigil dan kejang.

Desa Amwas merupakan markas pasukan muslim di Syam, sehingga ketika terjadi Wabah Amwas, banyak sekali pasukan muslim yang meninggal termasuk para panglima pasukan. Setidaknya ada 25.000 prajurit muslim yang meninggal akibat wabah Amwas, termasuk tokoh-tokoh penting sekaligus sahabat dekat Nabi seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Muadz Bin Jabbal, Yazid bin Abi Sufyan, serta Syurabil bin Hassan.

3. Wabah Kufah (669M)

Wabah Kufah merupakan wabah ketiga yang terjadi dalam sejarah islam. Wabah ini terjadi pada masa pemerintahan Muawiyah dari Bani Mu’awiyah, tepatnya pada tahun 669 M. Wabah Kufah sendiri menurut sejarah adalah wabah penyakit disentri. Yaitu penyakit infeksi saluran pencernaan yang diakibatkan buruknya sanitasi.

Penyakit disentri sendiri disebabkan oleh bakteri E.Coli dan Salmonela yang menginfeksi makanan ataupun air minum yang dikonsumsi. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak umat Islam yang meninggal ketika terjadi Wabah Kufah tersebut, namun dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Gubernur Kufah Al-Mughirah Bin Subbah meninggal akibat penyakit tersebut, tepatnya pada tahun 670 M.

4. Wabah Al-Jarif (668-669M)

Wabah Al-Jarif merupakan wabah tersingkat namun dengan jumlah korban meninggal yang sangat banyak. Wabah ini terjadi di Irak tepatnya pada tahun 668-669M. Ketika terjadi wabah Al-Jarif, Negara Irak berada dalam kekuasaan Bani Umaiyah, dimana Abdullah Bin Az-Zubair yang merupakan Cucu dari Abu Bakar As-Shiddiq sekaligus Keponakan Khadijah, memerintah di sana.

Al-Jarif berasal dari Bahasa Arab Jarafa yang berarti menyapu bersih. Dinamakan demikian karena dalam waktu singkat, yaitu kurang lebih 3 hari, wabah ini telah menelan korban sebanyak 73.000 jiwa.

5. Wabah Al-Ashraf (784M)

Wabah Al-Ashraf merupakan wabah yang terjadi pada pemerintahan Bani Umaiyah, tepatnya pada tahun 784M. Wabah yang melanda kota Bashrah selama 3 bulan ini juga disebut dengan wabah Muslim bin Quthaibah. Penyematan nama tersebut dikarenakan Muslim bin Qutaibah adalah orang yang pertama kali meninggal akibat wabah tersebut. Muslim bin Qutaibah sendiri merupakan salah satu Gubernur yang terenal pada masa Bani Umaiyah.

Al-Asraf memiliki arti terkenal, masyarakat menamai wabah tersebut dengan sebutan Al-Ashraf karena korban dari wabah Al-Ashraf kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan di Irak dan Bani Umaiyah. Diantara dari bangsawan yang meninggal akibat wabah tersebut adalah Sulaiman bin Abdul Malik, yang merupakan putra mahkota Bani Umaiyah.

6. Wabah Salam (749M)

Wabah Salam merupakan wabah yang terjadi di Busro dan Andalusia, tepatnya pada tahun 749 M. Wabah tersebut juga terjadi di Damaskus pada tahun 754M. Dalam kitab Ad-Dzikr Al-Waba’ At-Thaun Karya Syeikh Yusuf bin Muhammad As-Sarmady menjelaskan bahwa wabah tersebut memiliki gejala berupa batuk, sesak nafas, dan demam tinggi. Jika ditilik dari gejala-gejala tersebut, dalam dunia medis sekarang ini Wabah Salam bisa disebut sebagai Pneumonia atau infeKsi saluran pernafasan yang diakibatkan bakteri ataupun virus tertentu.

Wabah Salam juga merupakan wabah dengan korban meninggal yang amat banyak. Tercatat sekitar 7.000 orang meninggal setiap harinya akibat wabah Salam.  Dalam kitab Muqni’ah As-Sa’il An Al-Maradh Al-Hail, Syeikh Muhammad bin Abdillah bin Al-Khattib menjelaskan bahwa penyebab wabah Salam ialah dipengaruhi oleh dua faktor. Yang pertama adalah faktor jauh (Sabab Aqsa) dan Faktor rendah (Sabab Adna). Sabab Aqsa merupakan faktor yang diakibatkan oleh kondisi astronomi yang mempengaruhi dunia. Sedangkan Sabab Adna dipengaruhi oleh tercemarnya udara khususnya di daerah pertama kali munculnya wabah.

7. Wabah Tha’un (1348M)

Wabah Thaun terjadi ketika Negara-negara Islam dibawah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah atau yang lebih dikenal dengan Dinasti Turki Ottoman. Wabah ini begitu besar hingga menginfeksi bukan hanya Negara Islam, akan tetapi Negara-negara Eropa dan AFrika.

Begitu dahsyatnya Wabah Tha’un ini, hingga seorang Ilmuwan Muslim bernama Syeikh Zain ad-Din bin Al-Wardy atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Ward, menulis sebuah buku yang berjudul Risalah An-Naba’ Al-Waba”. Buku tersebut menjelaskan tentang gejala, serta penyebaran Wabah Thaun tersebut. Al-Wardy juga menggambar situasi dan kondisi Negara-negara yang terjangkit wabah, khusunya Allepo tempat dimana Al-Wardy tinggal.

Pada bagian awal buku Risalah an-Naba’ al-waba’, Ibnu Ward mengemukakan lokasi-lokasi penyebaran wabah Thaun serta Negara-negara yang terjangkit Thaun. Dalam kitab tersebut disebutkan beberapa daerah  yang terjangkit Wabah Thaun, diantaranya ialah India, Sind, Uzbekistan, Afganistan, negri Ajm, Ardh Al-Khatha, Anak Jazira Qorm, Romawi, Cyprus, Al-jazair, Cairo, Iskandaria, Barqah, Gaza, Asqallan, Al-Quds, Beirut, Damaskus, Mizzah, Ba’labak, Qarah, Antokia, Sarmin, dan Allepo. Ibnu Ward menjelaskan bahwa Daerah-daerah tersebut terjangkit Wabah Thaun dalam kurun waktu 5 tahun.

Pada bagian kedua buku, Ibnu Ward menjelaskan tentang gejala-gejala yang dialami oleh penderita Wabah Tha’un. Yaitu berupa demam, mual, muntah, pembengkakan, pendarahan, serta kulit menghitam. Kondisi tersebut terjadi sekitar 2-3 hari setelah tertular hingga akhirnya meninggal pada hari keempat.

Pada bagian ketiga buku menggambarkan dahsyatnya wabah tha’un hingga Ibnu Ward menyebutkan bahwa manusia tidak akan selamat kecuali dengan rahmat Allah. Ibnu Ward juga menjelaskan bahwa masyarakat berada dalam ketakutan dan kengerian dimana mayat-mayat bergelimpangan yang menimbulkan jenis penyakit baru. Sekitar 1000 orang menjadi korban wabah thaun setiap harinya, sehingga pemerintah meletakkan jenazah-jenazah di satu tempat dan menguncinya, dengan tujuan agar tidak dimakan binatang buas.

Karya Ibnu Ward tersebut banyak mendapat penghargaan dari para Sejarawan seperti Al-Maqrizy, Ibnu Syahin Azh-Zahiry, As-Syakhawy dan Sejarawan. Namun setelah menyelesaikan buku tersebut IBnu Ward meninggal dunia akibat terjangkit thaun yang melanda Allepo.

Jika dilihat dari waktu terjadinya Wabah serta gejala-gejala yang disebutkan oleh Ibnu Ward dalam Kitabnya, Wabah Tha’un yang melanda Negara-negara Islam, Eropa dan Afrika yang dijelaskan Ibnu Ward tidak lain adalah Wabah Black Death. Wabah tersebut terjadi di Negara Eropa, Afrika, dan Negara-negara Timur Tengah pada Tahun 1947-1951M. Gejala yang disebutkan Ibnu Ward merupakan gejala dari Black Death yang ditandai oleh menghitamnya beberapa bagian tubuh seperti ujung hidung, ujung jari, dan ujung kaki, yang diakibatkan oleh matinya jaringan.

Wabah Black Death sendiri merupakan Wabah penyakit Pes. Disebut sebagai Black Death atau Maut Hitam, dikarenakan menghitamnya beberapa bagian tubuh korban akibat matinya jaringan. Wabah Black Death sendiri disebabkan oleh Infeksi bakteri Yersinia Pestis. Yaitu suatu jenis Bakteri yang terdapat pada kutu hewan pengerat seperti tikus, tupai, ataupun bajing. Bakteri tersebut pula yang menjadi penyebab terjadinya Wabah Amwas pada masa Khalifah Umar Bin Khattab.

Hanya saja Wabah Amwas adalah Wabah Bubonic Pes, sedangkan Wabah Black Death merupakan Wabah Septisemmia Pes. Yang membedakan kedua jenis penyakit tersebut adalah bagian yang terinfeksi. Bubonic Pes adalah Pes yang menginfeksi kelenjar getah bening, sedangkan Septisemmia Pes adalah Penyakit Pes yang menginfeksi sistem peredaran darah.

 

Sumber:

https://bit.ly/3ehsY9I, https://bit.ly/3dcDw8F, https://bit.ly/3hDWMPR, https://bit.ly/2Yajzee, https://bit.ly/2UXSrx7

 

BACA JUGA
11 TIPS BERIBADAH DI MASJID PADA MASA NEW NORMAL
TIPS MERAYAKAN HARI RAYA IDUL FITRI DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Jangan Terlalu Bersedih, Ini Dia Hikmah Dibalik Pandemi Corona
Taukah Kamu? Anjuran Pemerintah Untuk Pencegahan Covid-19 Ternyata Seperti Ajaran Rasulullah

 


Share halaman ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •