1. AL-BATANI

Al Battani (sekitar 858-929), di dunia barat dan negara-negara Eropa juga dikenal sebagai Albatenius merupakan seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab pada masa Bani Abbasiyah. Memiliki nama lengkap: Abū Abdullāh Muhammad ibn Jābir ibn Sinān ar-Raqqī al-Harrani as-Sabi al-Battānī), Al-Battani lahir di sebuah kota kecil di Jazirah Arab, tepatnya di kota Harran dekat Urfa. Al-Batani merupakan ilmuwan yang sangat berpengaruh terutama di bidang Matematika dan Astronomi.

Salah satu pencapaian besarnya yang terkenal adalah tentang penentuan sistem Tahun Syamsiah atau Tahun Matahari. Berkat penemuannya tersebut masyarakat modern sekarang ini dapat mengetahui bahwa satu tahun berjumlah 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Bukan hanya dibidang Astronomi. Di bidang ilmu Matematika, Al-Battani juga memberikan kontribusi yang besar. Al Battani berhasil menemukan beberapa persamaan Trigonometri. Salah satunya berhasil memecahkan  persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:

Lahir dari keluarga ilmuwan, Al-Bantani dididik langsung oleh sang ayah, Jabir ibn San’an Al-Battani yang juga seorang Astronom. Sejak kecil Al-Battani sudah menunjukkan ketertarikan pada bidang keilmuwan yang digeluti sang ayah. Ketertarikan terhadap benda-benda langit tersebut kemudia mendorong Al-battani untuk menekuni menekuni bidang Astronomi sama seperti yang dilakukan sang Ayah.

Keluarga dan nenek moyang Al-Battani merupakan penganut sekte Sabian. Yaitu sebuah sekte yang meyakini bahwa alam semesta ini bergantung pada benda-benda langit. Sekte ini juga melakukan penyembahan terhadap bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya.

Ketertarikan Al-Battani pada benda-benda langit tidak hanya menjadikannya ilmuwan besar pada bidang Astronomi, namun juga memberikan pengalaman spiritual pada hidup Al-battani. Dengan menekuni bidang Astronomi, Al-Battani meyakini bahwa ada Dzat yang mengatur bintang-bintang dan benda-benda lainnya. hal itulah yang menyebabkan Al-Battani tidak mengikuti jejak nenek moyangnya yang menganut sekte Sabian, dan memilih untuk memeluk agama Islam.

Al-Battani menganut dan mempelajari tulisan-tulisan Ptelomius, yaitu Ahli Astronomi Yunani. Salah satu karya Ptelomius yang dipelajari Al-Battani berjudul The Almagest. Saat mempelajari The Almagest tersebut Al-Battani menemukan sebuah penemuan besar, yaitu titik Aphelium. Titik Aphelium adalah titik terjauh bumi saat berevolusi mengelilingi matahari.

Seorang Astronom Inggris, Joseph .A. Angelo menyebutkan bahwa Al-Battani telah memperbaiki tatanan tata surya dan lunar, serta mengembangkan teori Ptelomeus dalam buku The Almagest menjadi lebih akurat.  Angelo juga menegaskan bahwa ringkasa pemikiran Al-battani yang terangkum dalam kitab Al-Zij masih digunakan sebagai pedoman dan memberikan banyak pengaruh pada bidang astronoi dan astrologi Barat.

2. Ibnu Rusyd

Abu Walid Muhamad bin Rusyd atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusyd, merupakan Filusuf, Ilmuwan, dan Ahli ilmu Fiqih pada masa Bani Abbasiyah.  Ibnu Rusyd atau yang dikenal dengan sebutan Averous di Negara-negara Eropa, lahir di kota Cordoba, Andalusia (Spanyol). Di Negara barat Ibnu Rusyd dikenal sebagai “Sang Komentator terbesar”. Sebutan itu didapat karena Averrous sering mengomentari filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen pada abad pertengahan.

Selain sebagai seorang filusuf, Ibnu Rusyd juga merupakan dokter, ahli hukum dan ahli matematika. Pada masanya, banyak orang yang mendatangi Abu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah hukum dan bidang kedokteran.

Ibnu Rusyd banyak memberikan pengaruh besar terhadap peradaban manusia terutama di bidang Ilmu pengetahuan. hampir semua karya Ibn Rusyd diterjemahkan kedalam Bahasa Latin dan ibrani, sehingga kemungkinan karya-karya asli Ibnu Rusyd sudah tidak ada.

3. Tsabit bin Qurrah

Tsabit bin Qurrah merupakan Ilmuwan Islam dibidang Matematika dan Kedokteran. Bahkan disebut mengungguli semua dokter pada masanya. Memiliki nama lengkap Abu Al-Hasan bin marwah Tsabit bin Qurrah Al-Harrani, namun di Negara-negara barat lebih dikenal dengan nama Thebit. Tsabit lahir di kota Harran, Turki pada tahun 862 Masehi dan meninggal di Bagdad pada tahun 901 M.

Tsabit bin Qurrah merupakan iluwan yang menyempurnakan karya-karya Al-Khawarizmi. Jika Al-Khwarizmi menemukan konsep geometri dengan menguraikan persamaan pangkat dua atau kuadrat, maka Tsabit berhasil menemukan konsep geometri dengan menguraikan persamaan pangkat tiga atau kubik. Tsabit bin Qurrah juga merupakan orang pertama yang menciptakan Integral Calculus dan Differensial Calculus, yaitu sebuah konsep Matematika yang sangat penting dalam pembangunan jembatan dan gedung-gedung pencakar langit.

Tsabit juga dikenal sebagai pendiri ilmu keseimbangan. Hal tersebut dikarenakan karyanya yang berjudul Fi’ Al-Qarastun yang membahas tentang keseimbangan, dijadikan rujukan dalam bidang ilmu Mekanik. Karya Tsabit tersebut juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh seorang ilmuwan asal Yunani bernama Gherad Cremona, yang menjadikan buku tersebut sangat popular di Dunia Barat. Tsabit Bin Qurrah juga dikenal sebagai penemu Ilmu Statistik.

4. Al-Razi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau yang lebih dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.

Sejak muda Ar-Razi telah mempelajari filsafat, kesastraan, kimia, dan matematika. Dalam bidang ilmu kedokteran Al-Razi berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Ar-Razi juga dikenal sebagai ilmuwan serba bisa.

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, Al-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Razi  juga diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri, bukan wabah yang disebarkan oleh iblis atau tukang sihir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

https://tirto.id/al-battani-astronom-muslim-penentu-jumlah-hari-cpuY

https://munsypedia.blogspot.com/2013/08/10-ilmuwan-muslim-terbesar-dan-terhebat.html

https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2017/05/26/4198/tsabit-bin-qurrah-astronom-dan-ahi-geometri-asal-turki.html

http://blogaritmaa.blogspot.com/2015/01/aplikasi-dan-kegunaan-integral-dalam.html

Open chat
Selamat datang di Picasso Rugs & Carpets. Mau proposal GRATIS dan DISKON langsung?
Silahkan chat kami disini
Powered by