Beberapa bulan ini Indonesia mengalami peningkatan suhu yang sangat ekstrim. Bahkan beberapa wilayah di Indonesia suhu udaranya mencapai 41 derajat Celsius. Menurut BMKG penyebab dari peningkatan suhu tersebut diakibatkan karena posisi semu matahari yang berada di selatan khatulistiwa yang tepat diatas wilayah kepulauan Jawa dan Sumatera.

Selain posisi semu matahari, cuaca panas ini juga diakibatkan oleh angin kering yang bertiup dari benua Australia. Kedua faktor ini mengakibatkan Indonesia dilanda musim kemarau yang cukup panjang.

Musim kemarau yang berkepanjangan ditambah peningkatan suhu yang ekstrim di Indonesia pastilah memiliki dampak yang kurang bagus bagi masyarakat.

Keringnya beberapa sungai menyebabkan banyak petani mengeluh karena tidak mendapat pengairan sawah yang cukup. Banyaknya tanaman yang mati akibat lahan yang terlalu juga menjadikan para petani gagal panen. Dan dampak yang paling serius dari kemarau berkepanjangan ini adalah terbakarnya 309 hektar hutan di Sumatera dan Riau.

Di dalam Islam ada cara untuk meminta turunnya hujan. Caranya adalah dengan melakukan sholat sunnah yang dilakukan bersama-sama. Sholat tersebut adalah sholat Istisqa. Sholat Istisqa adalah sholat yang dilakukan dengan tujuan meminta diturunkannya hujan. Sholat ini biasanya dilakukan ketika ditimpa kemarau berkepanjangan.

Hukum melaksanakan sholat istisqa adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat ditekankan terutama ketika terjadi kemarau panjang. Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A,

”orang-orang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan meletakkan mimbar di tepat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah SAW keluar ketika matahari mulai terlihat. Lalu beliau duduk di mimbar, beliau bertakbir dan memuji Allah Azza wa jalla lalu bersabdah, “ sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kkegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji akan mengabulkan doa kalian” (HR. Abu Daud no.1173, disahihkan Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari hadits tersebut dapatlah disimpulkan bahwa mengerjakan sholat Istisqa sangat dianjurkan ketika terjadi kemarau panjang, karena itu menunjukkan bentuk ketidak berdayaan manusia dan kebutuhan manusia akan pertolongan Allah SWT.

Jika sholat istisqa sangat dianjurkan untuk dikerjakan ketika terjadi kemarau panjang, lalu kapan sebaiknya sholat istisqa dikerjakan dan bagaimana tata caranya? Berikut penjelasan mengenai waktu pelaksanaan sholat istisqa dan tata cara mengerjakannya.

1. Waktu pelaksanaan

Pada dasarkan tidak ada aturan khusus mengenai waktu dilaksanakannya sholat istisqa. Dengan kata lain sholat istisqa boleh dikerjakan kapan saja. Akan tetapi jika dilihat Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah diatas waktu yang paling tepat untuk melaksanakan sholat istisqa adalah ketika Matahari mulai terlihat.

2. Tempat pelaksanaan

Sholat istisqa boleh dikerjakan di Masjid ataupun Musholah. Akan tetapi yang lebih afdhol ialah dilaksanakan di lapangan atau tanah lapang. Hal tersebut sesuai dengan Sunnah Nabi yang diriwayatkan oleh Aisya RA, “Lalu beliau memerintahkan meletakkan mimbar di tepat tanah lapang”. Hal tersebut juga didukung oleh penjelasan Abdullah bin zaid Al-mmazini, “ Nabi SAW keluar menuju lapangan, beliau meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikkan posisi selendangnya dan kemudian Sholat 2 Rakaat” (HR. Bukhari No.1024)

3. Tata cara

Tata cara pelaksanaan sholat istisqa hampir sama dengan sholat Idain (Idul Fitri dan Idul Adha), baik dari jumlah rakaatnya maupun jumlah takbirnya. Berikut tata cara sholat istisqa mulai dari Niat hingga Salam:

  • Niat

Seperti halnya sholat fardhu dan sholat-sholat lainnya, sholat istisqa juga diawali dengan niat. Adapun bacaan niat pada sholat istisqa adalah sebagai berikut:

ىتَعَالَ لِلهِ مَأْمُوْمًا رَكْعَتَيْنِ الاِسْتِسْقَاءِ سُنَّةَ أُصَلِّيْ

Ushallī sunnatal istisqā’i rak‘ataini (imaaman/ma’mūman) lillāhi ta‘ālā.
artinya: saya menyengaja melaksanakan sholat sunnah istisqa dua rakaat makmum karena Allah ta’ala

  • Takbiratul ikhram

Setelah membaca niat, kemudian dilanjutkan dengan takbiratul ikhram. Takbir dalam sholat istisqa sama halnya dengan takbir pada sholat Ied, yaitu sebanyak 7 kali. Dan diantara tiap-tiap takbir disunnahkan membaca “subhanallahi wal hamdulillah wa laa ilaaha illallahu Allahu akbar”

  • Membaca fatihah.

Setelah sempurna melakukan takbir sebanyak tujuh kali, dilanjutkan dengan membaca Al-fatihah dan kemudian diikuti dengan membaca surat pendek.

  • Rukuk

Rukun sholat istisqa selanjutnya adalah rukuk. Bacaan rukuk dalam Sholat Istisqa sama seperti bacaan rukuk pada sholat fardhu, yaitu:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

 “SUBHANA ROBBIYAL ADZIMI WABIHAMDIHI”

Artinya: “Maha Suci Dzat yang maha agung dan segala puji bagiNya”.

  • I’tidal

Gerakan selanjutnya adalah gerakan bangun dari rukuk atau yang disebut juga dengan I’tidal. Bacaan yang dibaca ketika I’tidal adalah:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

“ROBBANA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAWATI WA MIL’UL ARDHI, WAMIL’U MAA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU”

Artinya: “wahai Tuhan kami bagi Mu lah segala puji yang ada di seluruh langit dan bumi, dan yang ada selain keduanya”

 

  • Sujud pertama

Gerakan selanjutnya adalah gerakan sujud. Dalam setiap rakaat sujud dilakukan dua kali dengan bacaan yang sama. berikut adalah bacaan yang dibaca ketika sujud:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

“SUBHANA ROBBIYAL  A’LA WABIHAMDIHI”

Artinya: “Maha Suci Dzat yang Maha Tinggi dan segala puji bagiNya”.

  • Duduk iftirasy

Setelah bangun dari sujud pertama, kemudia melakukan duduk iftirsy atau disebut juga duduk diantara dua sujud. Ketika duduk iftirasy doa yang dibaca ialah:

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْزُقْنِى وَارْفَعْنِى

RABBIGHFIRLI WARHAMNI WAJBURNI WARFA’NI WARZUQNI WAHDINI WA’AFINI WA’FUANI

Artinya: “Ya Tuhanku “maafkanlah aku”, dan sayangilah dan cukupilah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku”, dan berikanlah rizki pada ku, dan berilah petunjuk atas permasalahanku, ,dan sehatkanlah aku, serta ampunilah aku”

  • Sujud kedua

Gerakan pada sujud kedua sama halnya dengan sujud perama, begitu pula dengan bacaannya.

  • Berdiri (membaca takbir 5 kali)

Setelah sujud kedua dilanjutkan dengan gerakan berdiri sambil mengangkat kedua tangan seperti ketika melakukan takbiratul ikhram. Takbir pada rakaat kedua ini dilakukan sebanyak 5 kali, dan di antara tiap-tiap takbir disunnahkan membaca ““subhanallahi wal hamdulillah wa laa ilaaha illallahu Allahu akbar”.

Setelah melakukan takbir sebanyak 5 kali dilanjutkan dengan membaca fatihah, membaca surat pendek, melakukan gerakan rukuk, I’tidal, sujud petama, duduk iftirasy dan duduk kedua. Urut-urutan gerakan tersebut dan bacaan-bacaannya sama seperti pada rakaat pertama.

  • Tasyahud akhir

Setelah rampung mengerjakan gerakan-gerakan diatas dilanjutkan dengan gerakan tasyahud akhir. Sedangkan bacaan pada saat tasyahud akhir adalah sebagai berikut:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

“ATTAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAATU LILLAAH. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH. ASSALAAAMU’ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHOOLIHIIN. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLAH. ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD, ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBROOHIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIMM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLOOHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIM WA’ALAA AALI IBROOHIMM INNAKA HAMIIDUMMAJIID

Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia”

  • Salam

Gerakan terakhir adalah gerakan salam. Gerakan salam dilakukan dengan cara menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan “assalamu’alaikum warahmatullah”.

 

4. Khutbah

Setelah rampung melaksanakan sholat istisqa, Imam ataupun Khatib disunnahkan untuk menyampaikan 2 khutbah. Beberapa ulama berpendapat bahwa khutbah disampaikan sebelum melaksanakan sholat istisqa, tetapi pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa khutbah disampaikan setelah sholat, sama halnya seperti sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Tata cara menyampaikan khutbah pada sholat istisqa ialah sebelum menyampaikan khutbah pertama khatib disunnahkan membaca istighfar sebanyak 9 kali, sedangkan sebelum menyampaikan khutbah kedua disunnahkan membaca istighfar 7 kali.

5. Doa Sholat Istisqa

Setelah menyampaikan 2 khutbah, khatib disunnahkan duduk sejenak dan kemudia berdiri lagi dan membacakan doa sholat istisqa sebagai berikut:

  • اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا هَنِيئًا مَرِيعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامَّا طَبَقًا سَحًّا دَائِمً
  • اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِين
  • اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ
  • اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْسَمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِاللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْسَمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ
  • اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوعَ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
  • اللَّهُمَّ إِنَا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī‘an (lan riwayat murī‘an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman. Allāhummasqināl ghaitsa, wa lā taj‘alnā minal qānithīn. Allāhumma inna bil ‘ibādi wal bilādi wal bahā’imi wal khalqi minal balā’i wal juhdi wad dhanki mā lā nasykū illā ilaika. Allāhumma anbit lanaz zar‘a, wa adirra lanad dhar‘a, wasqinā min barakātis samā’i, wa anbit lanā min barakātil ardhi. Allāhummarfa‘ ‘annal jahda wal jū‘a wal ‘urā, waksyif ‘annal balā’a mā lā yaksyifuhū ghairuka. Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis samā’a ‘alainā midrārā.

Artinya: Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi. Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami orang yang putus harapan. Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan, kami tidak mengadu selain kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu. Ya Allah, angkatlah kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan dari bahu kami. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu. Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau Maha Pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.

 

BACA JUGA

10 Fakta Unik Masjid Aschabul Kahfi Tuban
7 MASJID TERBESAR DI INDONESIA
5 Masjid Terbesar di Singapura
7 Peristiwa Penting Yang Menyambut Kelahiran Nabi Muhammad
Sejarah Masjid Menara Kudus Dan Perjuangan Sunan Kudus
7 MASJID TERBESAR DI JAWA TIMUR
TATA CARA DAN KEUTAMAAN SHOLAT TAUBAT
Pengertian, Macam dan Keutamaan Sholat Rowatib
Ingin Khusyu’ Saat Sholat? Ikuti Tips berikut!
8 Keutamaan Sholat Istikharah Yang Patut Diketahui
Hukum dan Manfaat Mengerjakan Sholat Berjamaah
Keutamaan Dan Tata Cara Sholat Hajat (Arab dan Latin)
Open chat
Selamat datang di Picasso Rugs & Carpets. Mau proposal GRATIS dan DISKON langsung?
Silahkan chat kami disini
Powered by